jump to navigation

Menengok Industri Gula Merah Rumahan 23 Juli, 2010

Posted by gulamerahmb in bisnis, gula merah.
Tags: , , , , , ,
trackback
Proses pembuatan gula merah

Proses pembuatan gula merah

Jakarta – Kawasan Ujung Genteng Sukabumi Selatan Jawa Barat bukan hanya dikenal sebagai tempat wisata yang menyajikan keindahan alam yang mempesona. Di tempat ini juga dikenal sebagai sentra pembuatan gula merah pohon kelapa.

Ribuan hektar pohon kelapa yang menjadi bahan baku utama, terbentang jauh sepanjang mata memandang, menghiasi pantai-pantai nan eksotikdi ujung selatan Jawa Barat ini seperti Pantai Pangumbahan, Ombak Tujuh, Cibuaya, Cipanarikan dan lain-lain.

Sebut saja Uti, ibu rumah tangga yang berprofesi sebagai perajin pembuat gula merah yang menggeluti usaha pembuatan gula merah. Sudah sejak lama ia bersama perajin lainnya cukup berhasil memproduksi gula-gula merah berkualitas yang siap dikonsumsi masyarakat sekitar Sukabumi dan wilayah lainnya.

Dari sadapan nira pohon kelapa, tercipta gula merah yang memiliki cita rasa khas. Berton-ton gula merah itu setiap harinya di hasilkan oleh Uti dan rekan-rekan sesama perajin lainnya di Ujung Genteng.

Menurut Uti, gula merah yang dihasilkan pohon kelapa memiliki cita rasa yang khas. Tak jarang banyak masyarakat yang berminat untuk memakainya. Selain bentuk potongan yang lebih besar dari gula kebanyakan, gula merah pohon kelapa relatif lebih murah. Selain itu, nira dari pohon kelapa bisa setiap hari disadap tanpa perlu khawatir kehabisan pasokan.

Dalam satu lokasi kawasan pembuatan gula merah pohon kelapa, terdapat 40 sampai 50 perajin pembuat gula. Biasanya dalam satu kawasan tersebut ada satu pengelola yang memiliki modal lahan dan perkebunan kelapa yang disebut sebagai si punya kebun. Para perajin ini biasanya diberikan kebebasan untuk mengambil nira kelapa dan mengolahnya menjadi gula, dengan ketentuan si pemilik kebun wajib mendapat setoran produk gula setiap bulannya.

“Satu perajin wajib kasih gula merah 50 kg per bulan ke si punya kebun atau PT,” kata Uti saat berbicang dengan detikFinance, di kawasan sentra gula merah Ujung Genteng Sukabumi, Senin (9/3/2009).

Menurutnya dalam satu kawasan setidaknya si pemilik lahan harus menyediakan hingga puluhan hektar pohon kelapa untuk memenuhi kebutuhan bahan baku nira bagi para perajin. Bisa dibayangkan, jika harga 1 kilo gula merah di hargai Rp 7.000 dikalikan 50 kg untuk satu perajin bisa menghasilkan uang Rp 350.000 per bulan buat si pemilik kebun.

Jika itu dikalikan hingga 50 perajin maka setidaknya uang belasan juta akan masuk ke kantong pemilik kebun per bulannya, tanpa harus bersusah payah.

Dari sisi perajin, mengelola pembuatan gula merah cukup menggiurkan juga, maklum rata-rata produksi satu orang perajin bisa menghasilkan 20-30 kg gula merah per harinya. Dari total produksi itu si perajin harus mengumpulkan nira dari puluhan pohon kelapa setiap pagi hari.

“Untuk buat 30 kg gula merah, itu diambil dari sadapan 80 pohon loh,” timpal Dadang seorang perajin lainnya.

Menurut Dadang biasanya satu perajin rata-rata mendapatkan sadapan nira mencapai 25 liter per hari. Dari bahan baku itu bisa dihasilkan kurang lebih linier dengan jumlah produksi per kilogram gula.

Dadang mengaku ia bisa mendapat keuntungan bersih per harinya antara Rp 50.000-75.000 per atau setara rata-rata 2 kwintal gula merah per bulan. Ia mengaku biasa menjual kepada tengkulak yang berada di wilayah perkebunan. Keuntungan itu setelah dipotong oleh biaya-biaya untuk kayu bakar kebutuhan 1 bulan kayu dan obat biang.

“Yang berat itu memang di kayu bakar, satu orang sebulan bisa butuh 2 mobil kayu bakar, satu mobil Rp 380.000 dan obat biang sehari Rp 10.000,” jelas Uti.

Soal proses pembuatan gula merah kelapa, menurut Dadang tidaklah susah. Setelah memperoleh sadapan di pagi hari, ia harus menyiapkan tungku besar kayu bakar untuk menggodok nira kelapa. Proses penggodokannya memakan waktu hingga 2 sampai 3 jam, setelah itu adonan mulai mengental dan siap untuk di taruh ke cetakan bambu.

“Kita memang jual Rp 7.000 per kilo, tapi saya juga nggak tahu dari tengkulak jual ke pasar Sukabumi berapa,” ucap Dadang.

Meskipun begitu kata Dadang, usaha pembuatan gula merah rumahan baginya cukup bisa menghidupi keluarganya. Selain itu, pasar gula merah juga cukup tinggi terutama untuk keperluan bahan baku makanan, minuman dan lain-lain. Sehingga ia optimistis industri semacam ini meskipun berskala kecil bisa menjadi roda ekonomi masyarakat desa. (hen/ir)

[ sumber artikel ]

Komentar»

No comments yet — be the first.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: